Rabu, 07 Oktober 2009

PERDAMAIAN DI TANAH RENCONG

Peta Wilaya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam


Alhamdulillah, selesai sudah trauma sejarah panjang yang diakibatkan oleh perang antara RI dan GAM sejak Tahun 1976 sampai ditandatanganinya nota kesepahaman perdamaian pada Tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Trauma yang menimbulkan kenangan pahit akan kegetiran masa lalu yang sulit dituliskan dalam sejarah generasi Rakyat Aceh. Sejak penandatanganan nota kesepahaman tersebut "Provinsi Daerah Istimewa Aceh" yang dulu kita kenal berubah menjadi "Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam" yang jika diartikan secara bebas kedalam bahasa Indonesia yaitu "Provinsi Negeri Aceh Darussalam". Sungguh nama yang indah yang berisikan doa keselamatan dan kesejahteraan bagi seruruh rakyat Aceh. Amin...

Aceh merupakan daerah dimana tragedi yang sangat memilukan terjadi terus-menerus tanpa henti. Hampir setiap hari terdengar berita penculikan, pembakaran rumah maupun pembunuhan oleh pihak yang sedang bertikai di bumi “Seuramoe Mekkah” tercinta ini. Dimulai dari masa Operasi Jaring Merah, DOM, pasca-DOM, Operasi Cinta Meunasah, DLL.

Konflik terus melanda hingga akhirnya terjadi sebuah bencana alam terbesar di dunia “Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami” yang terjadi pada Tanggal 26 Desember 2004 telah meluluhlantakkan sebagian besar Aceh mengakibatkan ± 200.000 jiwa meninggal dunia, korban hilang ± 90.000 jiwa dan kerugian material lainnya yang melumpuhkan segala aspek kehidupan masyarakat Aceh. Kerusakan terjadi dimana-mana, tidak terkecuali kerusakan jalur transportasi logistik dari tetangga kita setanah air, Medan.

Terputusnya jalur logistik akibat bencana tersebut membuat rakyat Aceh makin sengsara, tidak terkecuali para anggota militer GAM yang berada di berbagai tempat di beberapa pegunungan Aceh. Berbagai macam bantuan berdatangan dari Negara-negara di seluruh dunia untuk membantu meringankan beban masyarakat Aceh.

Setelah 8 Bulan kemudian entah apa yang terpikirkan oleh wali nanggroe dan para pimpinan GAM sehingga sepakat dengan RI untuk membuat nota kesepahaman perdamaian yang selanjutnya ditandatangani pada Tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Seluruh rakyat Aceh seakan mendapat angin surga pada saat itu.

Segala aspek kehidupan masyarakat kembali normal. Masyarakat dapat kembali melakukan aktifitas seperti biasanya tidak seperti pada masa konflik. Masyarakat desa dan pegunungan dapat kembali melakukan aktifitas bertani, berkebun dan mengambil hasil hutan di pegunungan. Masyarakat desa bisa meymabung kembali tai persaudaraan dengan saudara mereka yang dikota begitu juga sebaliknya.
Akankah perdamaian ini akan pudar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab? Akankah generasi muda bangsa Aceh akan tertipu oleh “Si Perusak Perdamaian” sehingga generasi muda bangsa Aceh ikut-ikutan merusak perdamaian? Dalam Bab berikut penulis mencoba menjelaskan bagaimana generasi muda bangsa Aceh agar tetap mendukung dan ikut berpartisipasi dalam upaya menjaga perdamaian.

Perdamaian yang selalu dinantikan rakyat Aceh selama ± 30 Tahun kini telah nyata dalam kehidupan. 4 Tahun sudah perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam tercinta ini ternyata telah memberikan banyak kontribusi bagi masyarakat untuk mengembangkan diri sehingga segala aspek kebutuhan mereka terpenuhi walau tidak sepenuhnya. Perdamaian juga telah mengikatkan kembali tali persaudaraan yang selama ini putusm baik antara RI dan GAM, ayah dan anak yang dulunya sempat terpisah akibat konflik berkepanjangan dan juga tali silaturahmi antar sesama masyarakat Aceh.

Dilihat dari kondisi setelah 4 Tahun lebih perdamaian, mengapa dimasa perdamaian ini masih terjadi perampokan, pencuikan, atau bahkan pembunuhan? Apa sebenarnya yang diinginkan oleh “Para Perusak Perdamaian”. Padahal sebelum nota kesepahaman perdamaian MoU di Helsinki ditandatangani pada Tanggal 15 Agustus 2005, jutaan jiwa telah menjadi korban akibat konflik, belum lagi korban hilang, cacat seumur hidup, kehilangan anggota keluarga, harta benda, dan sarana-sarana pendidikan yang di bakar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang manfaatnya untuk mencerdaskan anak Aceh. Belum lagi dengan penurunan taraf ekonomi masyarakat dikarenakan banyak masyarakat yang tidak bisa mencari nafkah akibat keadaan keamanan yang tidak menentu.

Para generasi muda Aceh hendaknya tidak mengikuti pola pikir “para perusak perdamaian”. Melakukan hal-hal yang positif merupakan pilihan bagus bagi kemajuan Aceh di masa depan.

Perencanaan pembangunan Aceh di segala aspek demi terciptanya kualitas Rakyat Aceh yang maju dan mandiri dalam suasana tenteram, sejahtera, lahir & batin serta serba berkesinambungan dan selaras dalam hubungan antar sesama masyarakat dan masyarakat & lingkungannya.

Perdamaian juga bisa di isi dengan peningkatan kualitas SDM yang memiliki produktifitas kerja, keterampilan, kreatifitas, disiplin, dan profesional serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai ilmu pengetahuan & teknologi.

Kemampuan generasi muda dalam manajemen kepemimpinan juga perlu ditingkatkan agar dapat berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan serta perumusan kebijakan yang tidak berat sebelah, serta siap dan tanggap dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam masyarakat Aceh dimasa yang akan datang.

Masjid Raya Baiturrahman

Di lain hal, para generasi muda saat ini telah banyak dirasuki oleh Narkoba, Balapan liar, Judi, Khalwat, Perzinaan. Sehingga banyak pihak yang merasa disalahkan oleh ulah para generasi muda belakangan ini. Para orang tua hendaknya memantau sikap dan tingkah laku anak mereka agar tidak sampai melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya, keluarga, dan Rakyat Aceh secara umum. Pembinaan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama baik orang tua atau keluarga, masyarakat, sekolah, pemerintah serta remaja itu sendiri.

Begitulah sekelumit kisah suram yang terjadi di Tanah Rencong tercinta, kisah yang selama ini telah mencabik-cabik nilai persatuan nusantara, sejarah panjang menuju kedamaian, hingga kisah bencana maha dahsyat yang telah melanda. Sungguh Allah kuasakan atas semua kejadian yang telah terukir di Bumi Serambi Mekkah. Semoga perdamaian yang telah diraih akan senantiasa abadi untuk selamanya, hingga Allah mencabutnya kembali di hari akhir kelak.

Selama satu tahun tiga bulan saya bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Kota Banda Aceh, hal tersebut telah membawaku kepada iktibar yang luar biasa, meskipun itu baru kumulai sejak tahun 2007 silam. Sungguh Allah telah mengenalkanku akan keindahan Aceh dengan senyuman dari para penduduknya, dengan kemuliaan budayanya, dengan keharmonisan alam disekitarnya... Subhanallah... Maha suci Allah yang telah kembaliakan Aceh dalam kedamaian di atas kemurnian syariatMu yang senantiasa dilahirkan kembali untuk mengulang kejayaan Samudra Pasai di masa silam, yang telah mengantarkan nusantara kepada cahaya Ilahi dengan perantaranya, dan hidayah Allah Yang Maha Agung.


Kisah-kisah ini akan selalu terngiang dalam setiap tidurku dan akan menjadi kenangan sepanjang hidupku, hingga kan kuhabarkan kembali kepada para dzurriyatku kelak. Terima Kasih Aceh/Trimoeng Geunaseh Atjeh....

"Damee Sampoean Uroe Akhrir di Bumoe Atjeh nyang Lon Sayang"...
Amin...