Senin, 15 November 2010

JANGANLAH KITA BERLAKU SOMBONG (NASEHAT SEDERHANA UNTUK SEORANG SAHABAT)

by Apriansyach Taufik on Monday, November 15, 2010 at 9:07am
Dipagi yang indah ini, 08 Dzulhijjah 1431 H, mari kita berbagi pesan kebaikan di bulan yang mulia ini, bulan dimana ketaatan dan iman Nabi Besar kita Ibrahim AS dan putranya Nabi Besar Ismail AS tengah diuji oleh Allah, bulan dimana para kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia tengah berkumpul di Tanah Kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW untuk menunaikan Rukun Islam yang kelima Al Hajj, sehingga sedari-Nya semoga kita semua berolehkan kebaikan yang tak tak terhingga kiranya.
Wahai Sobat, diri ini laksana setitik debu yang berterbangan, tak ada daya bila dibandingkan dengan luasnya alam semesta. Maka janganlah sekali-kali menyimpan rasa sombong walau hanya sebesar biji sawi (atom) pun, karena hal itu akan menghalangi kita tuk merasakan indahnya nikmat dan rahmad Allah dalam keabadian surga-Nya.

Wahai Sobat, kesombongan adalah jubah kebesaran yang tidak selayaknya dimiliki oleh seorang makhluk seperti kita, karena memang kita tercipta sebagai seorang hamba, hanya seorang hamba yang memiliki kelemahan yang tak terhingga. Ingatlah sesungguhnya tujuan keberadaan kita disini tiada lain hanya untuk beribadah dan menyampaikan pesan keislaman kita sebagai rahmat bagi sekalian alam, dan segala sesuatu yang kita lakukan haruslah memiliki dasar atas penghambaan diri kepada-Nya.

Wahai Sobat, apa yang kita miliki sesungguhnya tidak akan pernah abadi, karena keabadian hanyalah kemutlakan bagi-Nya. Setiap nafas yang kita hirup akan memiliki pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Setiap detak jantung yang kita lalui akan menanyakan apa yang telah kita lakukan selama ia berdetak. Jika kita dianugrahkan sebuah kelebihan, maka hal itu tidaklah menjadi pembeda atas diri kita dihadapan-Nya, karena memang yang akan membedakan setiap hamba dari hamba lainnya hanyalah tingkat ketaatan dan ketakwaan kepada-Nya. Raih dan raihlah kesempatan kita untuk melakukan yang terbaik dalam hidup kita dengan dasar ibadah kepada-Nya.

Wahai Sobat, meskipun kita diberikan oleh Allah suatu kelebihan yang mungkin tak dimiliki oleh orang disekitar kita, lantas janganlah hal itu menjadikan kita berlaku dan membanggakannya secara berlebihan, karena hal itu sangatlah tidak disenangi oleh Sang Pencipta dan Pemberi Amanah atas kelebihan yang kita miliki.

Wahai Sobat, senantiasalah berbagi nasehat kepada sesama, karena itu akan menjadi bekalan amal jariyah yang tak terputus bagi kita kelak, meskipun kita telah tiada di kehidupan ini. Janganlah merasa malu tuk menjalankan perintah-Nya, karena rasa malu itu hanya akan menjauhkan kita dari ridha-Nya. Janganlah bersikap angkuh ketika kabar akan kebaikan dari firman-Nya datang menghampiri kita, karena itu akan mendekatkan kita kepada laknat-Nya.

Wahai Sobat, senantiasalah menampilkan mimik wajah terbaikmu ketika berhadapan dengan orang disekitarmu, dan janganlah sekali-kali engkau menampilkan wajah masam, acuh, bahkan wajah marah yang penuh dengan kesombongan, karena hal itu akan menjauhkanmu dari indahnya rahmat Allah di dalam sebuah silaturahim.

Wahai Sobat, janganlah berkata dengan perkataan yang tidak disenangi oleh lawan bicaramu, dan janganlah pula engkau berkata dengan intonasi atau nada yang dapat mengganggu orang disekitarmu, karena itu mungkin akan membuat sebagian hati dari orang disekitarmu merasa risih bahkan terganggu bila mendengarkanmu, bahkan mungkin akan memunculkan fitnah dan prasangka buruk terhadap sifatmu. Maka senantiasalah bersantun dalam bicaramu dan jagalah perkataanmu.

Wahai Sobat, jadikanlah diri kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki, atas apa yang telah Allah anugrahkan kepada kita. Sungguh Allah sangat mencintai orang-orang yang selalu bersyukur kepadanya, bahkan akan melimpahkan kenikmatan yang tak terhingga kiranya. Namun Sobat, janganlah sekali-kali nikmat yang Allah beri menjadikan diri kita lupa tuk bersyukur atasnya, dan hanya berlaku khilaf dan larut dengan semua perkara kesenangan dunia tampa mengucap syukur dan ingat bahwasanya apa yang diberi mestilah berorientasi pada ketaatan kepada-Nya. Ketahuilah sungguh Allah sangat membenci hal yang demikian, bila kita tidak dengan segera menyadari dan memohon ampun kepada-Nya, maka sungguh azab Allah sangatlah pedih.

Wahai Sobat, akhir kata sungguh belumlah pula layak diri ini menasehatkan kebaikan-kebaikan kepada semua, karena memang diri ini belumlah sebaik perkataan yang dipunya, bahkan mungkin nasehat ini lebihlah tepat tertuju pada diriku sendiri, namun setidaknya diri ini telah sedikit menyampaikan kebaikan, bilamana kali ini Sobat tiada besepakat, maka sungguh kewajibanku telah tertunai sudah, dan sungguh tak ada pemaksaan dalam keyakinan keislaman kita.

Depok, 15 November 2010 Pukul 08:16 WIB
Apriansyach Taufik